Ass. Wr. Wb.
Tuhan…
aku tak kuasa memberi pada Mu karena Engkau memiliki segala-galanya
maka aku akan pinta pada Mu… mohon beri aku
keberanian untuk mengubah apa yang dapat dan harus kuubah
keikhlasan untuk menerima apa yang tidak dapat kuubah
kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaan keduanya agar aku tetap menjadi hamba yang kembali dan berserah diri.
Wass,
TH
RENUNGAN
Oleh: WS RENDRA
Seringkali aku berkata,
ketika orang memuji milikku
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipanNya,
bahwa rumahku hanya titipanNya,
bahwa hartaku hanya titipanNya,
bahwa putraku hanya titipanNya
Tetapi mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali olehNya?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan
Seolah …
Semua derita adalah hukuman bagiku
Seolah …
Keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika
Aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku,
kuperlakukan Dia seolah mitra dagang dan bukan kekasih,
kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku
Ya Rabb, padahal tiap hari kuucapkan
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah kepadaMu,
ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja.