Blognya kula73-Cerbon

Mangan beli mangan asal kumpul (sekalee-sekalee)

Tertib, sabar dan santun dalam berkendaraan

Ditulis oleh rumahkayubekas di/pada November 2, 2007

AssWrWb..
Awalnya ini adalah komentar atas pertanyaan ” Bagaimanakah pengalaman Anda menyetir di negara lain?” pada tulisan di Blog tetangga dengan judul” Budaya Menyetir Di AS”.

Budaya menyetir di Indonesia? Seperti yang sama- sama kita tahu, budaya( saya kurang faham apakah tepat istilah ini) “menyetir” atau berkendara( atau berkendaraan?), kebiasaan barangkali lebih tepat? di Indonesia adalah sama- dengan beranggapan tidak ada lagi hari esok. Semua harus segera. Rambu lampu hijau, kuning merahpun entah yang mana yang nyala, berarti ” ah masih keburu koq”. Aturannya adalah siapa didepan,siapa beranilah yang berhak. ” Pejalan kaki minggir!!!!”. Padahal sudah mepet di pedestrianpun harus lagi minggir entah kemana( nyemplung ke kali pinggir jalan?) karena pengendara motor perlu liwat pedestrian disebabkan jalan peruntukannya terhambat macet. ” Wah goblxx…. mobil depan nih. Padahal kan masih keburu. Wong belum merah koq….” .

Batas kecepatan 40km/jam berarti 60km/jam, 60km/jam berarti 80km/jam. 80km/jam berarti tancap gas sampai mentok. Baru kakinya lepas dari gas setelah terpaksa kendaraannya diberhentikan oleh sebatang pohon atau mobil didepannya. Semoga jangan terjadi.

Pernah lihat peringatan pada mobil- mobil travel yang belakangan bermunculan dengan trayek Bandung- Jakarta? Tertulis, ” Mohon laporkan bila kecepatan kendaraan diatas 120km/jam”. Padahal jelas- jelas kecepatan maksimum di Tol adalah 80km/jam dan hanya dibeberapa ruas jalan Tol 100km/jam.

Pantasnya semua lomba- lomba F1, Superbike dimenangkan oleh anak negeri.

Semestinya pengguna jalan di Tanah- air adalah pengguna jalan paling tertib, paling disiplin dan paling santun dimuka bumi ini. Disamping ada peraturan dan sangsi, juga kita adalah bangsa yang agamis serta juga kita punya adat ketimurannya.

Lebih dari cukup untuk menjadikan kita bangsa yang paling santun dalam berkendaraan.

Hanya kenyataan berbicara lain.

Bukan hal yang mudah memang mengurai benang kusut masalah ini. Satu hal berkaitan dengan sekian banyak hal yang lain.

Serba salah. Tapi akan lebih salah lagi bila kita tidak lakukan apa- apa.

Bukan cuma kenyamanan dijalan yang hilang tapi utamanya lagi keselamatan dijalan yang terancam. Nyawa kita lho!
Jadi sambil juga kita fikirkan jalan keluarnya/ pemecahannya( karena inipun menjadi tanggung- jawab kita bersama) ,seperti juga kata seorang Da’i, yu kita mulai dari ( entah urutannya yang betul yang mana) dari hal- hal yang kecil, dari diri sendiri dan dari sekarang.

Sederhana sekali sebenarnya. Beberapa hal diantaranya adalah:

- Pakai helm yang cukup memenuhi sarat bila kita mengendarai sepeda motor. Jadi bila kita pakai Helm asalan seharga puluhribuan, ya semurah itu kita menghargai kepala kita. padahal kerepotannya luar biasa sekali, bila tak kita harapkan terjadi kecelakaan parah. Darah mengalir deras, dokter belum juga datang, orang sekampung memenuhi ruang gawat darurat, menghambat kerja petugas2 rumah- sakit, harus kesana- kemari guna mendaftar, menyiapkan uang muka bila diharuskan, telpon sana- sini. Cari donor darah yang juga tidak mudah, karena jangan2 golongan darah kita termasuk yang lebih langka. Belum lagi bila ternyata kamar rumah- sakit penuh. Belum lagi bila kebetulan sedang tidak siap uang dikantong maupun juga di rekening/ tabungan.

Luar biasa sekali kerepotannya kan!. Cuma gara2 kita menghargai kepala kita semurah puluhribuan saja. Bila sampai nyawa melayang?

- Gunakan selalu sabuk pengaman bila bermobil. Baik mengemudi maupun sebagai penumpang. Seringkali terjadi, bila kebetulan mobil yang kita peroleh adalah bekas, dan kebetulan sabuk pengamannya bukan yang pakai pengencang otomatis, malas lagi kita mau pakainya. Akhirnya hanya kita selendangkan agar tampak seolah- olah kita pakai, bila kelihatan ada petugas. Untuk beli yang dengan pengencang otomatis sayang rasanya. Padahal sekarang mungkin hanya ratus ribu saja harganya. Tapi kebalikannya kita akan mudah dan semangat sekali saat beli soundsystem berharga 4 kali lipatnya bahkan mungkin lebih dari 10 x lipatnya. Belum lagi ban lebar, velg racing, belum lagi asesoris lainnya.

- Pilihan kita hanya satu, taati rambu2 lalu- lintas yang ada. Semua sudah diperhitungkan dengan kondisi jalan, kepadatan lalu- lintas sekitar dsb. Termasuk juga kecepatan yang sesuai dengan kelas jalannya.

- Trotoar peruntukannya sudah jelas untuk pejalan kaki. Bukan jalan pintas bagi kendaraan roda dua saat jalannya macet.

- Bila macet, atau terhambat entah karena satu atau sebab lain, hadapi dengan sabar. Belum pernah terjadi macet yang tiba2 hilang karena kesabaran kita yang hilang.

- Alihkan kreatifitas kita ke hal2 yang lebih bermanfaat daripada mengganti klakson dengan bunyi2 yang jelas2 tujuannya mengagetkan bukan memperingatkan. Juga daripada mengganti lampu rem yang sudah seharusnya berwarna merah menjadi putih menyilaukan pengguna jalan dibelakang kita, juga daripada mengganti knalpot dengan yang lebih hingar- bingar lagi bunyinya.

- Setiap saat kita berdo’a tak pernah lupa/ tak pernah ketinggalan kita panjatkan juga doa memohon sehat dan selamat kepada Alloh Swt.

Rasanya koq seperti melecehkan ya, bila setelahnya kita lakukan hal- hal yang bertolak- belakang dengan permohonan do’a kita tadi. Dengan tidak memakai kelengkapan keamanan,dengan berkendaraan ugal- ugalan, seenaknya tanpa peduli bahwa orang lainpun berhak atas jalan yang ada.

Yu kita mulai dari hal- hal kecil ini, mulai dari diri- sendiri, dan mulai sekarang.
Tentunya pertama sekali saya tujukan untuk diri saya sendiri.
Salam sobat- sobat, semoga berkenan,

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>