Blognya kula73-Cerbon

Mangan beli mangan asal kumpul (sekalee-sekalee)

Arsip untuk ‘Renungan’ Kategori

Sombong, sifat yang sangat dibenci Allah SWT.

Ditulis oleh kula73cerbon di/pada November 20, 2007

Sekedar menyampaikan Pesan

Satu sifat yang paling dibenci oleh Allah SWT adalah
sombong. Sombong adalah menganggap dirinya besar dan
memandang orang lain hina/rendah.
Allah melarang kita untuk sombong: Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Renungan | 1 Komentar »

Pengajian : Hati Yang Baik oleh Hariyanti Sadaly

Ditulis oleh kula73cerbon di/pada Oktober 4, 2007

Suatu hari pada musim haji, Abdullah bin Mubarak yang sedang melaksanakan ibadah haji di tanah suci tertidur di Masjidil Haram. Dalam tidurnya beliau bermimpi bertemu dengan seorang malaikat yang memberitahunya bahwa ibadah haji umat Islam tahun itu diterima Allah hanya karena kebaikan seorang tukang sepatu. Sehabis itu Mubarak terbangun. Betapa penasarannya beliau dengan mimpi itu dan betapa penasarannya beliau dengan tukang sepatu yang diceritakan malaikat dalam mimpinya itu. Apa gerangan yang dilakukan tukang sepatu itu sehingga menyebabkan ibadah haji seluruh umat Islam tahun itu diterima Allah? Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »

YouHaveNoExcuse

Ditulis oleh kula73cerbon di/pada Oktober 4, 2007

youhavenoexcuse.jpg

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »

Renungannya WS. Rendra oleh TH

Ditulis oleh kula73cerbon di/pada Oktober 4, 2007

Ass. Wr. Wb.

Tuhan…

aku tak kuasa memberi pada Mu karena Engkau memiliki segala-galanya
maka aku akan pinta pada Mu… mohon beri aku
keberanian untuk mengubah apa yang dapat dan harus kuubah
keikhlasan untuk menerima apa yang tidak dapat kuubah
kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaan keduanya agar aku tetap menjadi hamba yang kembali dan berserah diri.

Wass,
TH

RENUNGAN

Oleh: WS RENDRA

Seringkali aku berkata,
ketika orang memuji milikku
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipanNya,
bahwa rumahku hanya titipanNya,
bahwa hartaku hanya titipanNya,
bahwa putraku hanya titipanNya

Tetapi mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali olehNya?

Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan

Seolah …
Semua derita adalah hukuman bagiku
Seolah …
Keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika
Aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku,
kuperlakukan Dia seolah mitra dagang dan bukan kekasih,
kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku

Ya Rabb, padahal tiap hari kuucapkan
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah kepadaMu,
ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja.

Ditulis dalam Renungan | 1 Komentar »

Musibah( bagaimana menyikapinya)

Ditulis oleh kula73cerbon di/pada Oktober 4, 2007

Musibah adalah sesuatu yang terjadi dari luar diri kita. Musibah bukan pilihan hidup, tetapi penderitaan dan kebahagiaan itulah pilihan. Ada orang yang mendapat musibah, lalu ia menjadikan musibah tersebut sebagai penderitaan. Tapi ada juga yang dengan musibah, tetap bisa merasakan kebahagiaan.

Kematian pasangan hidup, misalnya suami yang ditinggalkan istri, bisa jadi itu adalah penderitaan baginya. Tetapi bagi suami yang lain, merupakan kebahagiaan karena ia bisa kawin lagi, walau air matanya berlinang. Air mata buaya! Kehilangan seorang atasan bagi si Bejo merupakan penderitaan, tetapi tidak bagi si Udin. Sebab dia memang tidak suka dengan atasannya itu. Dari sini bisa dipahami bahwa musibah adalah sesuatu yang memang datang dari luar diri kita, sedangkan kebahagiaan dan penderitaan adalah sesuatu yang muncul dari dalam diri kita sendiri, subyektif, tergantung bagaimana kita menata perasaan. Tergantung bagaimana kita menyikapi musibah tersebut.

Sikap orang dalam menyikapi musibah berbeda-beda. Tergantung dari pemahaman, pengalaman, dan kepasrahan. Pemahaman akan musibah sebagai fase hidup, membuat seseorang dapat menerima musibah apa adanya, tidak berlebihan dalam menentukan sikap maupun pernyataan. Musibah yang dialami dipahami sebagai bagian dari ujian atas pilihan hidupnya. Musibah datang, tak lepas dari Kuasa Tuhan.

Ada juga yang memahami musibah sebagai hukuman. Apa yang terjadi padanya dianggap sebagai tebusan atas kesalahannya, walau entah apa kesalahannya. Musibah adalah kutukan bagi mereka yang pantas mendapatkan kutukan.

Bagi orang yang menjadikan hidupnya sebagai pengalaman (baca: hikmah) menganggap musibah yang dialami sebagai sebuah momentum yang memang harus dijalaninya. Mereka yang pandai mengambil hikmah dari setiap momen kehidupannya, tak akan merana dengan datangnya musibah. Bahkan musibah yang dialaminya dianggapnya sebagai ujian dalam menjalin cinta terhadap Tuhannya.

Lalu bagaimana agar musibah menjadi kebahagiaan? Jawabannya hanyalah kesabaran dan kepasrahan (tawakal). Sabar menjadikan orang yang mendapat musibah mendapatkan kemuliaan di sisi Tuhan.

Ada yang berpikir, orang yang baik justru sering ditempa musibah. Orang yang jahat cenderung lebih jarang dapat musibah. Seorang ustadz yang setiap hari melakukan syi’ar agama, sering mendapatkan musibah, kehilangan anak, kehilangan istri, kehilangan penghasilan, kehilangan sandal, dan lain-lain. Tetapi seorang koruptor, selalu hidup bergelimang harta, bisa melakukan apa saja karena uang, dan selalu mendapatkan prioritas untuk kebutuhan hidupnya. Orang yang kurang sabar dan tawakal, akan menganggap bahwa Tuhan sangat tidak adil. Mengapa sang ustadz kerap mendapat musibah sedangkan koruptor tidak. Bahkan tidak jarang ada yang protes kepada Tuhannya.

Musibah yang dialami oleh ustadz ternyata tidak membuat hidupnya menderita. Walaupun ia masuk penjara, tetapi kemerdekaan hati selalu membebaskannya dari penderitaan. Berbeda dengan sang koruptor, walaupun ia bebas dan tidak masuk penjara, tetapi penjara yang masuk ke dalam hatinya. Ia selalu dikejar-kejar oleh ketakutan, ia selalu mencari pembenaran (bukan kebenaran) agar tak masuk penjara.

Pernah seorang muslim merasakan penderitaan ketika sandalnya hilang di masjid. Apalagi itu adalah sandal baru yang dibelinya dari usahanya sendiri. Ia pulang dari masjid dengan telanjang kaki. Mukanya cemberut. Di perjalanan ia bertemu dengan seorang pincang karena kehilangan kakinya, yang menyapanya dengan senyum. Sang muslim itu akhirnya dapat membebaskan dirinya dari penderitaan. Ia berpikir, orang yang kehilangan kakinya saja masih bisa tersenyum untuk dunia, mengapa ia merasa menderita hanya karena kehilangan sandal? Maka iapun mulai bersabar dengan menyadari bahwa apa yang dimilikinya di dunia itu bersifat sementara.

Lalu bagaimana agar kita bisa selalu sabar dalam menerima musibah? Seperti yang juga ditulis oleh penulis ini,(saya dapatkan tulisan ini dari tulisan di milis tetangga), disarankan untuk mencoba mencari jawabannya diantaranya barangkali dari Mas Oeban dan Isnain. Silahkan berkirim imel padanya atau kunjungi blognya! ( http://isnain.blogspot.com)

Wassalam,

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »